Senin, 01 April 2013

Honda BeAt 2010, Kampiun Kelas 130cc Patok Kompresi 12,7 : 1

Rasio kompresi penentu power mesin. Makin gede rasio kompresi didapat power besar. Namun harus ditunjang bahan bakar oktan tinggi. Seperti Honda BeAT pacuan M. Adi Sucipto dari tim Kawahara JP Racing, kampiun satu kelas 130 cc pemula di Indonesian Super Matic Race Seri 4 Malang lalu (28/11).

Di Sirkuit Tugu lalu, diseting kompresi 12,7 : 1. Ini kompresi maksimal atau paling tinggi karena terbatas penggunaan bahan bakar. “Wajib bahan bakar SPBU lokal. Maksimal Pertamax Plus,” jelas Alvin, mekanik yang mengorek.

Kompresi tercipta dari ubahan di sektor mesin. Pakai piston Izumi tipe high dome diameter 54,4. Namun sisi samping piston dibuat mendem 1 mm. Supaya punya endurance tinggi karena harus menempuh 15 lap setiap race-nya.

Begitupun sektor kepala silinder. Alasan serupa Alvin hanya memapas head sekitar 0,5 mm. Sebab, kalau lebih kompresi juga akan naik lagi.

Namun pada seri final (11-12/12) di Sirkuit Jl. Pahlawan, Tabanan, Bali, BeAT kelir biru ini hanya podium 3. Karena hanya ada Pertamax. Gak ada Pertamax Plus.

Kembali soal kapasitas silinder. “Kini dengan diameter piston 54,4 mm, volume silinder sekarang bengkak jadi 127,3 cc,” jelas Alvin yang aslinya punya bengkel di di Jl. Raya Jombang, Perigi Lama, Bintaro, Tangerang Selatan.

“Bicara seting mengacu pada regulasi yang sudah ditetapkan. Tahu sendiri, kelas 130 cc standar enggak banyak ubahan. Jadi, cuma kemampuan meracik mesin kuncinya,” ungkap Alvin yang aslinya mekanik S2M Kaka Putera Perdana.

Di kelas standar pemula, diameter klep tidak diubah dan masih andalkan part standar. Kini, kedua klep in dan out buka tutupnya diatur kem yang sudah dimodifikasi bubunganannya.

Klep isap (in) durasinya sekitar 271 derajat. Sedangkan untuk klep buang (ex) durasinya 272 derajat. Hitungan ini agar nafas BeAT tetap ada demi mengejar peak power putaran atas.

Bermain kelas standar, karburator kudu tetap pakai standar. Yang boleh cuma kilik aliran debit gas bakar lewat spuyer. Coba bermain aman dengan setingan basah. Pilot-jet dipatok pada angka 42 sedangkan main-jet masih tetap mengandalkan spuyer standar yaitu 100.

Sip. (motorplus-online.com)

PAKAI ROLLER 8 GRAM RATA

Beralih ke seting seputar CVT. Lagi-lagi, tidak banyak ubahan yang dilakukan. Penggantian hanya sebatas roller. Dari setingan yang dilakukan di sirkuit ini, pria berumur 31 tahun ini mengaku menggunakan ukuran 8 gram rata.

“Awalnya pakai yang 7 gram. Tapi, lihat lay-out sirkuit Tugu karakter high speed di trek lurus dikombinasi tikungan patah yang mengharuskan bermanuver lebih pelan. Pilihan yang tepat adalah roller Kawahara 8 gram rata,” imbuh pria asli Betawi ini.

Katanya putaran atas tidak terlalu dipikirkan. Yang penting, putaran bawah meluncur lebih cepat. Sehingga, mudah melesat keluar tikungan! Gasssss!

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Indotire 80/90-14
Ban belakang : Indotire 90/90-14
Knalpot : Standar bobokan
Sok belakang : YSS
Pelumas : Federal Oil
Read more »»  

Disupport Yoshimura, Performa Si Titan Makin Yahud!

Suzuki TOP 1 BRT KYT IRC (STBKI) jadi salah satu dari beberapa tim yang disupport Suzuki. Pabrikan berlambang ‘S’ ini menunjuk Yoshimura buat bantu riset pacuan di ajang IndoPrix. Seperti yang dilakukan di pacuan IP1 (110 cc) yang digeber Achmad Kohar, di Seri IndoPrix Surabaya, beberapa waktu lalu.

Sejumlah suku cadang diboyong demi bantu Titan agar melesat bagai anak panah. “Ada tiga part yang dibawa. Tapi, hanya dua yang akhirnya terpakai. Per klep dan karburator,” ujar Felix Judianto, owner tim STBKI.

Sedangkan part yang tidak terpakai, noken as. Alasannya, salah bawa part alias tak sesuai dengan konfigurasi kebutuhan. Lewat per klep yang dibawa, lift klep 27 mm (in) dan 23 mm (ex) yang diusung, dibuat lebih tinggi. Lift klep main di 9 mm lebih. Itu karena per ini agak sedikit beda ketimbang per klep Jepang.
Perbedaan terletak di jarak tiap ulir per saja. Tapi, kalau menurut Felix, kekerasannya tidak jauh beda. “Jarak agak jauh, setidaknya meminimkan risiko beradunya antara setiap ulir,” tambah pria yang juga mantan pembalap itu.

Dukungan karbu juga bikin perbedaan. Ukurannya sama seperti Mikuni 24 mm. Tapi, ketika dicoba di atas mesin dynotest, powerband yang dihasilkan di putaran tinggi sedikit lebih bagus.

Tapi, angka spuyer turun drastis ketika pakai karbu Yoshimura. Pakai Mikuni, pilot-jet 25 dan main-jet 150. Sekarang, 22,5 dan 100. Turunnya angka spuyer bisa disebabkan bedanya jarum skep. Di Yoshimura, jarum skep terdapat beberapa lubang. Sedang di Mikuni, polos.

Meski sudah aplikasi dua part itu menurut Felix, seting engine belum maksimal. “Perlu riset lagi agar dapatkan hasil yang terbaik,” tutupnya.
DATA MODIFIKASI
Ban : IRC 166 90/80-17
Piston : 51,5 mm FIM
Sok belakang : Kitaco
Kaliper rem & CDI : BRT
Knalpot : AHAU Motor
Read more »»  

Honda Supra X 125, Bisa Contek Buat Harian!

Bertarung di kelas bebek 4-tak standar 125 cc pemula max 16 tahun (MP5), musti pintar seting mesin. Seperti yang dilakukan Sumingan terhadap pacuan Honda Supra X 125 yang digeber Andi Gilang.

Maklum, karena regulasi kelas pembibitan ini tidak memperbolehkan banyak ubahan. Termasuk banyaknya part racing. Apalagi dengan munculnya adendum. Maka itu, tunner musti pintar!

Nah, Gilang yang baru berusia 13 tahun ini, tampil dominan bersama Supra X 125. Racer tim Honda Daya Federal Oil KYT FDR Bank BJB Golden ini, meninggalkan lawannya cukup jauh di seri MP Malang, Jawa Timur beberapa waktu lalu. “Seting motor sesuai karakter saya. Makanya bisa ke depan,” ungkap racer bernama lengkap Andi Farid Izdihar.

Sumingan, pintar melihat celah buat mengakali pacuan tahun 2009 itu. Ya, sesuai karakter Gilang yang suka buka-tutup gas spontan. Demi memperbesar daya gebuk di ruang bakar, piston FIM diameter 53,4 mm dipasang. “Buat menambah power dan mendekatkan ke batasan kapasitas mesin saja,” bilang pria yang akrab disapa Mian.

Pakai piston yang sekarang, isi silinder mentok di 129,6 cc. Masih belum melewati batasan yang dipatok di 130 cc, kok. Menyesuaikan kebutuhan, jenong alias dome piston ikut dipapas. Juga, dicoak ulang agar tidak membentur klep.

Dari bibir piston, dome hanya dibikin 1,5 mm. Memang tidak dibuat terlalu tinggi. Itu karena kepala alias head silinder juga dipapas. “Head dipapas cuma 0,7 mm,” tambah Mian dari markasnya BBS Motor di Jl. Babakan Surabaya, No. 16, Kiara Condong, Bandung, Jawa Barat.

Diameter kubah dibuat jadi 39 mm dengan squish dimainkan di 9º. Lewat ubahan di head dan blok silinder, kini kompresi membengkak jadi 11,5 : 1. “Sebelum ikuti adendum, kompresi pakai 11,8 : 1. Tapi, karena sekarang pakai Pertamax Plus, ya harus diturunkan,” ungkap tunner 43 tahun ini.

Buat mengatur buka-tutup klep, durasi noken as diatur ulang. Begitunya asupan bensin dan gas buang sesuai kebutuhan. Klep in, durasi dibikin jadi 272º. Sedang klep ex alias buang, diseting di 268º. LSA (Lobe Separation Angle) bermain di 105º.

Asupan bahan bakar mengandalkan dari karburator standar. Tapi, tidak murni standar. Karena moncong karbu direamer sekitar 2 mm. “Skep dan venturi tetap standar, lho,” yakin tunner dengan logat Sunda yang kental.

Setidaknya, langkah yang dilakukan Mian bisa diterapkan pemilik Supra X 125 buat pacuan hariannya. Yap, pacuan yang tidak ingin bore up, tapi ingin akselerasi lebih kencang! 

 DATA MODIFIKASI
Ban : IRC 166 90/80-17
Sok belakang : Triple S
CDI : BRT Dual Band
Knalpot : SND     
BBS Motor : (022) 721-3631
Read more »»  

Honda Blade, Andalkan Kompresi 12:1

Sebagai pendatang baru di kancah balap nasional, belum banyak tim balap andalkan pacuan Honda. Terutama, Honda Blade. Termasuk bagi Jamal Suparno Daeng Lira yang seting bebek 110cc Honda ini untuk dipakai berlaga oleh M. Agus Salim di OMR Honda Makassar, beberapa waktu lalu.

“Ini pertama kali bagi saya membuat motor balap Honda. Sebelumnya sudah coba beberapa merek,” ungkap pria yang akrab disapa Daeng Lira ini.

Tetapi, meski baru pertama mengolah Honda Blade, hasilnya sudah memuaskan. Pembalapnya yang tergabung di tim Bintang Lima Lira Motor Racing Team, berhasil naik podium di kelas MP4 atau bebek 110cc tune-up pemula.
Karena ini yang pertama, Daeng Lira pun enggak ingin terlalu ekstrem mengubah setingan. Maksudnya, dia ingin terapkan seting bertahap. Bahkan, kompresi tidak dibuat terlalu tinggi. Ya! Keseluruhan ubahan, hanya membuat perbandingan kompresi jadi 12 : 1. Maka itu, cukup pakai Pertamax Plus.

Untuk membuat kompresi yang tidak tergolong tinggi ini, beberapa ubahan dilakukan. Yaitu, pakai piston FIM Piston diameter 51,25mm. Tinggi dome di part penggebuk kompresi ruang bakar itu hanya dibuat 1,5mm.

Lalu, kem standar Blade dibubut untuk atur ulang durasi buka-tutup klep. “Durasi dibuat jadi 269º. Sayangnya buku catatan saya terselip tak tahu di mana, jadi lupa buka-tutup secara rincinya,” jelas tunner 32 tahun itu. Wah, kalau gitu harus cari lagi tuh. Atau, dial ulang.

Lanjut! Lewat durasi dan tinggi dome yang diterapkan, kepala silinder dipapas sekitar 0,8mm. Oh ya, menurut Daeng Lira, klep juga tetap andalkan standar. “Nanti, kalau hasilnya kurang memuaskan, baru dinaikan lagi,” timpal sobat ramah tinggal di Gowa, Sulawesi Selatan.

Menemani ubahan di engine, pengabut bahan bakar juga sudah mengaplikasi karburator Mikuni Sudco 24mm. Karena menurutnya, karbu ini mampu menambah akselerasi di putaran atas. Pilot dan main jet diseting ulang. Pilot pakai 25, main-jet andalkan 140. Sementara untuk otak pengapian dirasaa cukup mengandalkan CDI BRT 24 step.

Oh ya! Untuk mengakhiri ubahan di mesin, saluran buang Kawahara Racing diandalkan. Tapi, knalpot ini memang diperuntukan buat Blade ya, bukan buat matik. He..he..he...

Gasss...! 

DATA MODIFIKAS
Ban depan    : FDR 90/80-17
Ban belakang: FDR 90/80-17
Gas Spontan: Daytona
Sok belakang: Daytona
Final gear    : 13/39 mata
Read more »»  

Honda BeAT, Andalkan Klep Sonic

 
Klep Honda Sonic dipakai buat kejar durability di Honda BeAT geberan Andri Wibowo yang main di kelas MP7 (matik standar 130 cc). Bahkan, lewat klep ini juga podium utama di ajang MotoPrix seri III region 2 berhasil diinjaknya di Sirkuit Gokart Sentul.

“Pakai klep Sonic, tenaga motor seperti enggak ada drop-nya. Malah di lap 6 keatas, tenaga makin enak. Sementara motor lain mulai drop. Kalau diameter batang sih sama aja, mungkin materialnya yang beda,” kata Andri yang pembalap sekaligus merangkap jadi mekanik di tim Honda Dumasari Bostar INK.

Tapi, buat main di kelas MP7, tentunya diameter klep harus sesuai standar bawaan pabrik. Maka itu, diameter Sonic dibuat jadi 25 mm (in) dan 21 mm (ex).
Klep Sonic yang diandalkan diputar kem berdurasi 262º. Tapi selain itu, dikombinasi lewat kompresi 12,8 : 1. Kompresi ini didapat dari pemakaian blok silinder set Kawahara piston 54,5 mm.

"Kalau standarnya tanpa papas kem, kompresi sudah main di 13,3 – 13,5 :1. Tapi, buat cari aman, dome piston dipapas sedikit-sedikit sampai dapat kompresi 12,8 : 1,” tutup pria 25 tahun itu. (motorplus-online.com) 

DATA MODIFIKASI
Ban : FDR 90/80-17
Roller : Kawahara 7 gram
Kampas CVT : Kawahara
Sok belakang : YSS Click
Per CVT : Kawahara 1.500 rpm
Read more »»  

Vespa Excel, Aroma Italia Rasa Jepang

 
Vespa Excel besutan Firman Priangga dari Ram’s Racing Team terbilang aman. Mesin ogah drop meski melahap 16 putaran pada Vespa Balap Indonesia Cup Race 2012 seri 2 di Sentul Kecil lalu. Rahasianya, cuma ‘menu’ Italia yang dipadu cita rasa Jepang. Laper.. 

Sampeyan tahu, aliran gas bakar di mesin Vespa diatur rotary. So, masuknya gas bakar menunggu putaran kruk as. Sistem ini gak cocok diaplikasi di balap. Karena, putaran mesin balap tinggi, gas bakar kerap tekor.

Maka perlu dipadu cita rasa Jepang.  Yaitu  cangkok katup buluh atau reed valve. Menu inilah yang dimasak Saefudin, koki Ram’s Motor yang jagoan Vespa.
Lubang isap dijarah 3 mm agar membran Malossi bisa duduk manis. Diikuti suplainya dibenahi. Menggamit Keihin 26 milik Kawasaki Ninja R150. Untuk setingan Sentul, spuyer yang tepat kombinasi main-jet 160 dan pilot-jet 50.

Lumayan besar. Tapi, bukan ga ada tujuan. Spuyer segini cocok diaplikasi buat Sirkuit Sentul kecil yang rolling speed memanjakan putaran atas.  Selain itu, dengan suplai bahan bakar melimpah, temperatur mesin lebih dingin.  (motorplus-online.com) 

DATA MODIFIKASI
Ban : Bridgestone 3.50-10
Sok belakang : Kayaba
Koil : Yamaha YZ
Read more »»  

Senin, 18 Februari 2013

Kilau Emas Jupiter MX Mantapkan Langkah Jadi Jawara Bebek Modif dan Coolest Blink-Blink


Melihatnya dari jauh kita akan tahu kalau motor ini adalah Yamaha Jupiter MX. Namun yang membuatnya menarik adalah kilau emas yang membalur beberapa bagian body hingga nampak makin 'eye catchy'. Motor andalan Made Ambara Suarjaya, SE ini memang dipersiapkan khusus untuk mengikuti ajang Motodify Denpasar terutama di kelas blink-blink dan bebek modif. Tak hanya body yang mendapat perhatian khusus, seluruh sisi seperti pada kaki-kaki juga mendapat sorotan khusus agar tampil makin mantap.

Mengenai motornya, Made Ambara yang juga pengelola bengkel M1 berujar, "Motor ini adalah Jupiter MX tahun 2006 yang saya kastem dengan konsep elegan dengan body kastem minimalis," katanya menjelaskan. Walau tanpa ubahan ekstrim pada mesin, penampilan body yang luar biasa ini memang seolah jadi magnet yang mampu mengundang banyak pasang mata untuk melirik padanya. Rincian kaki depan sendiri kental nuansa crom gold seperti pada Fork Gazi Up Side Down serta cakram dan kaliper Kitaco 4 piston. Untuk master rem dan tromol sendiri masih menggunakan model aslinya.

Lanjut ke kaki belakang, perubahan yang terjadi nampak jelas pada ubahan swing arm yang juga model kastem. Tambahannya ada pada ubahan suspensi yang memakai Gazi, cakram Posh, Kaliper Kitaco 4 piston, dan master rem yang juga versi kastem. Semuanya seolah berpadu rapi dengan detail body mulai dari rangka, kedok depan, fairing, buritan dan tutup mesin yang merupakan buah kreasi Made Ambara di bawah label M1. Seperti sudah disinggung diatas, walau tanpa ubahan berarti di mesin, saluran buang motor ini dirancang ulang juga dengan model kastem.

Untuk variasi di motor ini dapat dilihat jelas pada pemakaian stang x-1R, lampu belakang dan sign Mio. Untuk pedal gas dan footstep, Made Ambara memilih model kompak keluaran pabrikan parts ternama Yoshimura. Menonjol di sisi warna, untuk cat dan clear di motor ini diserahkan sepenuhnya ke bengkel krom Malik Bali memakai produk serwin william plus krom emas di luarnya. "Lama pengerjaan motor ini memakan waktu satu bulan dengan kesulitan terutama di sektor body kastem dimana kita berusaha menyatukan fiber dengan plastik," katanya mengungkapkan tentang lama pengerjaan dan kesulitan pengerjaan motor ini.

Sederet keistimewaan ini yang sontak membuat motor pria asal Denpasar jadi yang terbaik terutama di kategori bebek modification dan coolest blink-blink. Menutup percakapan, pria ramah inipun mengungkapkan tentang kesan dan harapannya, "Saya sangat bangga dan gembira atas kemenangan ini dan harapan saya biar motor ini bisa lebih digarap ke depannya dengan lebih bagus lagi dari sekarang".
Read more »»